#3 Series : People Pleasing

Oops! Jangan-jangan ini… ONCE UPON A “ YES I NEVER MEANT ”

Eps 01 : People Pleasing, Apa Sih? 

People Pleaser? Sebutan untuk Individunya 

Muncul dari kecemasan dan rasa takut, susah bilang “nggak”, dan harga diri individu biasanya akan ambruk atau gampang tersenggol apabila ada sesuatu yang nggak disetujui 

Menurut sebuah penelitian dalam Buku Pathological Altruism (Oakley, Knafo, Madhavan, & Wilson, 2012), ada bentuk “menolong” yang secara nggak sadar justru merugikan diri sendiri, yang biasa disebut dengan people pleasing. Niatnya baik, tapi ujungnya malah menguras diri sendiri & bukan perilaku yang menyehatkan. 

Coba jujur, yuk! Waktu kamu menolong atau nurutin orang lain, itu karena kamu memang pengen atau karena kamu cuma takut sama kemungkinan buruk yang bisa terjadi ketika kamu bilang “nggak” ? 

Sumber: Oakley, B., Knafo, A., Madhavan, G., & Wilson, D.S. (Eds.). (2012). Pathological Altruism. Oxford University Press. 

Eps 02 : Darimana People Pleasing Terbentuk ?

Carl Rogers menjelaskan bahwa konsep Conditional Positive Regard, yaitu kondisi ketika dimana kasih sayang / penerimaan yang kita dapat semasa kecil adalah bersyarat (hanya muncul ketika kita menurut, berprestasi, atau menjadi anak baik. Lama-lama ini akan membentuk Conditions of Worth, yaitu keyakinan bahwa kita cuma berharga kalau memenuhi syarat tertentu. 

Kalau dari kecil kasih sayang terasa harus dipenuhi syaratnya dulu, maka wajar kalau dewasa ini kita jadi otomatis berusaha untuk selalu menyenangkan orang lain. Bisa jadi, karena itu cara lama kita yang belajar supaya tetap aman dan diterima. 

Well, kasih sayang bersyarat memang terkadang meninggalkan bekas pada masing-masing individu yang mengalaminya. Penting untuk diingat mulai dari sekarang bahwa kamu nggak perlu terus-terusan membayar dengan selalu menyenangkan semua orang supaya layak untuk dicintai. 

Sumber: Rogers, C.R. (1959). A Theory of Therapy, Personality, and Interpersonal Relationships as Developed in the Client-Centered Framework. 

Eps 03 : Apa kamu tahu? People pleaser sering kelihatan baik-baik aja dari luar, padahal semua capek -nya numpuk diam-diam di dalam 

Hasil riset Psikolog Dana Crowley Jack terhadap perempuan yang mengalami depresi, memperkenalkan sebuah konsep yang disebut Self-Silencing, yaitu kebiasaan membungkam kebutuhan, pendapat, dan terutama kemarahan sendiri demi menjaga hubungan dengan orang lain tetap aman. 

Ternyata self-silencing ini berkaitan erat dengan meningkatnya kerentanan munculnya depresi. Terus mengalah pada diri sendiri, meski mungkin akan terlihat baik di mata orang lain, pastinya punya harga psikologis yang sangat nyata dan menguras diri. 

Yuk, Take a Look Deeper ! . . . 

Lantas, Apa Saja Dampak Menjadi People Pleaser ke Diri Sendiri ?? 

  • Risiko Depresi Menjadi Lebih Tinggi :

Membungkam kebutuhan dan kemarahan diri sendiri demi menjaga hubungan dengan orang lain secara berlebihan 

  • Relasi Justru Malah Menjauh, Bukannya Mendekat? 

Individu yang terbiasa menahan dan menyembunyikan emosinya justru mengalami penurunan dukungan sosial, kedekatan, dan kepuasan relasi dengan orang lain dari waktu ke waktu 

  • Menguras Energi Tanpa Disadari

Menahan emosi terus-menerus punya biaya kognitif tersendiri. Mengganggu kemampuan mengingat dan memproses informasi, karena sebagian energi mental terus terpakai untuk menjaga relasi agar tetap sempurna. 

  • Membuat Sulit Untuk Mengenali Kebutuhan Diri Sendiri 

Karena terbiasa merespons berdasarkan ekspektasi orang lain, banyak people pleaser yang akhirnya kebingungan saat ditanya “kamu maunya apa?”, bukan karena nggak punya keinginan, tapi karena udah lama nggak dilatih untuk didengar. 

Sumber : Jack, D.C. (1991). Silencing the Self: Women and Depression. University Press.

Srivastava, S., Tamir, M., McGonigal, K.M., John, O.P., & Gross, J.J. (2009). The Social Costs of Emotional Suppression. Journal of Personality and Social Psychology, 96(4), 883–897.

Richards, J.M., & Gross, J.J. (2000). Emotion Regulation and Memory: The Cognitive Costs of Keeping One’s Cool. Journal of Personality and Social Psychology, 79(3), 410–424.

Eps 04 : Cara Bilang “ Nggak” Hah? Memang Bisa Ya?

Buku Your Perfect Right (Alberti & Emmons), adalah salah satu rujukan yang paling banyak dipakai dalam Assertiveness Training sejak 1970. Buku ini membedakan 3 Gaya Komunikasi, yaitu : 

  • Pasif : Menurut terus, kebutuhan sendiri dikorbankan demi kebutuhan orang lain 
  • Agresif : Memaksakan kehendak sendiri, tidak peduli pada orang lain 
  • Asertif : Jujur soal kebutuhan diri dan tetap menghormati orang lain. 

Assertiveness bukan soal menjadi pribadi yang kasar atau egois. Justru sebaliknya, lewat sini, cara komunikasi yang terbangun dan terbentuk adalah bagaimana kita mampu untuk menghormati diri sendiri bersamaan dengan menghormati orang lain secara setara. 

Lalu, gimana cara untuk mulai berhenti people pleasing? 

  1. Jangan Buru-buru Menjawab Ketika Seseorang Memerlukan Bantuanmu 
  2. Apabila Tidak Bisa Membantu, Kamu Bisa Tolak Permintaannya dengan Baik 
  3. Nggak Wajib Kasih Alasan Panjang Ketika Kamu Menolak Untuk Membantu 
  4. Pakai Teknik DEAR MAN (DBT dari Marsha Linehan) :
  • Describe situasinya secara objektif
  • Express perasaanmu
  • Assert kebutuhan dan batasanmu dengan jelas
  • Reinforce dan coba jelasin manfaatnya (buat kamu atau relasi kalian)

Misalnya :

  • Aku tau ini deadline penting buat kamu juga (Describe)
  • Tapi aku udah kewalahan minggu ini (Express)
  • Aku nggak bisa ambil tugas di bagian ini (Assert)
  • Tapi aku bisa tetap bantu maksimal di bagian yang lainnya (Reinforce)

Sumber: Alberti, R.E., & Emmons, M.L. (2017). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life and Relationships. New Harbinger Publications. 

Sumber: Alberti, R.E., & Emmons, M.L. (2017). Your Perfect Right: Assertiveness and Equality in Your Life and Relationships. New Harbinger Publications; Linehan, M.M. (2014). DBT Skills Training Manual (2nd ed.). Guilford Press. 

Eps 05 : Sekedar Cari Validasi dari Luar atau Haus Validasi Sih? 

Pernah kepikiran kenapa rasanya susah banget buat berhenti nyari validasi dari orang lain? Bisa jadi karena rasa berharga diri kita sering digantungkan ke sesuatu yang ada di luar diri. 

Ini Kata Riset 

Menurut riset Jennifer Crocker & Connie Wolfe (2001) soal Contingencies of Self-Worth, saat harga diri seseorang bergantung pada domain tertentu (misalnya: disukai orang lain, disetujui, dianggap baik), individu tersebut akan rentan secara psikologis. Sedikit saja terdapat penolakan atau ketidaksetujuan, harga dirinya langsung goyah. Riset ini juga menemukan, pola mengejar validasi seperti ini punya biaya nyata ke relasi, kemampuan belajar, dan kesehatan mental jangka panjang. 

Validasi dari luar itu nggak salah kok untuk dicari. Masalah baru akan muncul apabila validasi luar menjadi satu-satunya sumber rasa berharga diri kita. Pelan-pelan, coba bangun juga validasi dari dalam juga, merasa cukup dengan menghargai diri sendiri, belajar mengapresiasi diri, yang nggak nunggu approval orang lain dulu 🌸 

Sumber: Crocker, J., & Wolfe, C.T. (2001). Contingencies of Self-Worth. Psychological Review, 108(3), 593–623.

Writer : Eliana Kurniawati, S.Psi., M.Si  | Directed : Mike Karunia Wati Simamora, S.Psi., M.Si

Hai! Butuh bantuan? 💛