#2 Series : Toxic Productivity – Jadi, sebenarnya?  Produktif atau Cuma Takut Berhenti Sih ?

Kita hidup di budaya yang bilang istirahat itu buat orang malas. Tapi kalau capeknya nggak pernah habis meski udah produktif terus, gimana dong? Jangan-jangan yang kita kejar bukan produktivitasnya, tapi rasa takut kalau berhenti. Jadi pertanyaannya, aku sibuk karena memang perlu atau karena takut kalau cuma berdiam diri aja? 

Eps 01 SIBUK ADALAH TOLAK UKUR KEBERHARGAAN DIRI KITA ? 

Sejak kemajuan industri dan teknologi yang berkembang pesat, jam kerja panjang dan output kerja mulai dikaitkan erat dengan nilai diri seseorang. Seiring waktu, hal ini makin tertanam lewat budaya kerja modern yang serba cepat dan diperkuat lagi dengan penggunaan media sosial. Sehingga ….. 

SIBUK DITAMPILKAN SEBAGAI LAMBANG KEHORMATAN 

Ilmu Psikologi menyebut fenomena ini sebagai salah satu bentuk workaholism. Muncul dari dorongan internal untuk terus bekerja berlebihan. Kalau engagement digerakkan oleh rasa senang, toxic productivity digerakkan oleh kecemasan dan ancaman terhadap harga diri. Hal ini sering berakar dari contingent self-worth, yaitu kondisi ketika rasa berharga seseorang dilekatkan pada kesibukan, pencapaian, atau output. 

Toxic Productivity dapat terbentuk sejak kecil lewat pola penerimaan yang bersyarat 

Eps 02 TOXIC PRODUCTIVITY BUKAN CUMA PRODUKTIF BIASA

Lantas, apa dampaknya? 

  1. Mental 

Tekanan untuk terus produktif biasanya dapat memberikan peningkatan pada stress yang terkadang bisa dibarengi dengan kecemasan apabila tidak dikelola dengan baik. 

  1. Cara Pandang diri 

Identitas sering kali diletakkan ke dalam pekerjaan, dimana berhenti sebentar bisa terasa seperti sebuah kegagalan. Cara pandang seperti ini dapat memicu siklus stress yang berulang. 

  1. Tubuh

Tekanan akibat bekerja secara tidak realistis dapat pula ikut memperburuk kondisi fisik secara keseluruhan. Misalnya kurangnya istirahat dan gaya hidup keseharian yang kurang bergerak secara sehat. 

Riset John Pencavel (2014) dari Stanford, menemukan bahwa produktivitas per jam justru menurun tajam setelah seseorang bekerja lebih dari 50 jam per minggu. Bahkan setelah 55 jam, tambahan jam kerja nyaris nggak menghasilkan apa-apa lagi. Individu yang bekerja 70 jam/minggu memiliki hasil yang lumayan setara dengan yang bekerja 55 jam. 

Jadi, “KERJA LEBIH KERAS = HASIL LEBIH BAIK” nggak selalu benar, lho. Kadang justru sebaliknya. 

Sumber : Pencavel, J. (2014). The Productivity of Working Hours (IZA Discussion Paper No. 8129) 

Eps 03 : TANDA TOXIC PRODUCTIVITY YANG SERING DIANGGAP WAJAR 

Beberapa hal ini sering dianggap biasa aja atau bahkan dianggap rajin, padahal bisa jadi tanda toxic productivity ? 

  • Merasa Harus Punya Alasan Untuk Santai 
  • Susah Menikmati Waktu Luang Tanpa Memikirkan “Harus Ngapain Lagi Ya?” 
  • Mengukur Keberhargaan Diri dari Seberapa Banyak To-Do List yang Tercentang 
  • Kerja Lembur Terus Dianggap sebagai Bukti Dedikasi 
  • Susah Bilang Cukup Bahkan Setelah Tugas Selesai 

Hal diatas bisa jadi salah satu sinyal kalau kamu udah kebiasaan sibuk demi menghindari rasa nggak nyaman saat diam. Padahal, mengambil jeda, berdiam diri dan beristirahat sejenak sebelum memulai lagi, nggak apa-apa, lho! 

Sumber : Hsee, C. K., Yang, A. X., & Wang, L. (2010). Idleness Aversion and the Need for Justifiable Busyness. Psychological Science. 

Eps 04 : CARA KELUAR DARI TOXIC PRODUCTIVITY

Riset dari Sabine Sonnentag & Charlotte Fritz (2007) mengidentifikasi 4 komponen istirahat yang benar-benar berdampak ke pemulihan : 

  1. Psychological Detachment Benar-benar Lepas dari Kerjaan
  2. Relaxation Menurunkan Aktivitas Baik dari Segi Mental dan Fisik
  3. Mastery Sesekali Melakukan Hal yang Bukan Tuntutan tetapi Pilihan
  4. Control Punya Kendali atas Waktu Sendiri

Bukan soal berapa lama liburnya, tapi soal apakah keempat hal ini benar-benar kamu dapatkan saat kamu pergi sejenak dari kerjaan dalam rutinitasmu. 

Sumber: Sonnentag, S., & Fritz, C. (2007). The Recovery Experience Questionnaire: Development and Validation of a Measure for Assessing Recuperation and Unwinding from Work. Journal of Occupational Health Psychology 

Eps 05 : PRODUKTIF YANG SEHAT ITU KAYAK GIMANA ? 

Menurut Ryan & Deci dalam Self-Determination Theory, motivasi untuk produktif yang sehat bukan digerakkan oleh rasa takut atau bersalah. Hal ini biasanya muncul saat 3 Kebutuhan Psikologis Dasar ini terpenuhi : 

  1. Autonomy : Merasa yang Dikerjakan adalah Sebuah Pilihan dan Bukan Paksaan, Ngerjain sesuatu karena kamu yang memutuskan bahwa itu penting, bukan karena takut dihakimi kalau berhenti. 
  2. Competence : Merasa Diri Berkembang, Bukan Hanya Bertahan, Ada rasa “aku makin bisa” dan merasa diri bertumbuh, dari apa yang dikerjakan, kerjaan bukan sekedar checklist yang harus dihabisin. 
  3. Relatedness : Nggak Dikerjain Sendirian & Tidak Terisolasi, Ada rasa terhubung dengan orang lain lewat apa yang kamu kerjakan, bukan produktivitas yang bikin makin menjauh dari orang-orang di sekitar

Produktif yang sehat bukan berarti berhenti mengejar apa-apa. Tetapi bagaimana pada akhirnya kita mengejar sesuatu karena memang kita “sedang memilihnya”, bukan karena “takut berhenti” 

Sumber: Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2000). Self-Determination Theory and the Facilitation of Intrinsic Motivation, Social Development, and Well-being. American Psychologist, 55(1), 68–78. 

Writer : Eliana Kurniawati, S.Psi., M.Si  | Directed : Mike Karunia Wati Simamora, S.Psi., M.Si 

Hai! Butuh bantuan? 💛