#1 Series : Berjalan dari Rumah ke Ruang Cinta

Kenapa Kita Mencintai Seperti yang Kita Lakukan?

Sebelum jatuh cinta pada orang lain, kita sudah lebih dulu belajar soal cinta dari rumah, dari cara bagaimana kita dicintai (atau nggak-nya) sejak kecil. 

Eps 01 Keluarga 

Sebelum kita memulai hubungan romantis ataupun mencintai orang lain, kita udah lebih dulu melewati yang namanya “sekolah cinta” di rumah, lewat cara orang tua saling memperlakukan satu sama lain dan cara mereka memperlakukan kita sebagai bagian dari keluarga. Menurut Attachment Theory (Bowlby & Ainsworth), pola kelekatan yang kita bangun dengan pengasuh di masa kecil akan membentuk semacam “cetakan dasar” / blueprint soal apa itu cinta, cara memaknainya, keberadaan rasa aman, dan perasaan percaya. Cetakan ini yang diam-diam akan kita bawa ke hubungan romantis dewasa.

Pada akhirnya, keluarga adalah sekolah cinta pertama kita 

Dari sinilah bermula, bahwa banyak insting dan kepekaan diri kita mengenai cinta adalah hasil alami dari proses belajar yang terbentuk dalam keluarga.  Sebelum kita belajar lebih lanjut mengenai cinta dari luar atau pasangan dalam hubungan romantis, yuk, kita lihat sekilas, 5 Ciri Keluarga sebagai “Sekolah Cinta Pertama” yang Sehat: 

  1. Tempat aman untuk kembali

Apapun yang terjadi, tetap diterima dengan kasih sayang dan pelukan hangat 

  1. Emosi didengar, bukan diabaikan

Perasaan kita divalidasi, bukan dianggap remeh atau kecil 

  1. Konflik diselesaikan, Bukan dihindari 

Pertengkaran dapat terjadi namun tetap saling menghormati 

  1. Terdapat ruang untuk menjadi diri sendiri 

Dekat secara emosional, namun tetap boleh berbeda pendapat 

  1. Kasih Sayang tanpa syarat 

Kehangatan dalam keluarga muncul dalam berbagai situasi. Bukan hanya ketika mampu mencapai sesuatu, tetapi juga memeluk ketika kegagalan dalam hidup terjadi  

Sumber : Bowlby & Ainsworth (attachment theory); Gottman, Katz & Hooven (1997); Bowen, M. (1978); Baumrind, D. (parenting styles research) 

Eps 02 Pasangan 

Kenapa Kita Sering “Ketemu Tipe yang Sama” ??

Pernah menjalin hubungan romantis sama orang yang beda-beda, tapi ujung-ujungnya masalah yang muncul mirip terus? Menurut Imago Relationship Theory dari Harville Hendrix (1988), kita cenderung tanpa sadar tertarik pada pasangan yang punya kemiripan dari sisi baiknya maupun dari sisi yang buruk yang terkadang menyakitkan. Ternyata hal ini juga masih berkaitan dengan sosok pengasuh di masa kecil lho. Terkadang hal ini terus muncul meskipun kita berada dalam hubungan romantis dengan orang baru karena bagian dari diri kita masih “berharap” hubungan baru bisa menyelesaikan luka lama kita yang belum selesai. 

Menyadari pola ini adalah langkah pertama biar kita nggak asal mengulang, tapi mulai memilih dengan sadar 

Yuk, Kenalan Sama Pola Pilihanmu! 

1. Poll Cepat 

Waktu suka seseorang, biasanya kamu lebih tertarik ke orang yang …

A. Mirip sifat orang tua atau pengasuh

B. Justru kebalikan dari itu

C. Belum pernah sadar polanya

2. Pertanyaan Refleksi 

Coba pikirkan 2-3 orang yang pernah bikin kamu akhirnya jatuh cinta (nggak harus sampai pacaran)

  1. Apa kesamaan sifat yang mereka punya?
  2. Apa yang bikin kamu nge-klik ke sifat itu? Nyaman, familiar, atau justru menantang?
  3. Adakah sifat itu yang mirip dengan pola di keluargamu?

Kalau kamu jujur, pola yang kamu pilih selama ini, bikin kamu berkembang, atau justru bikin kamu ngulang luka yang sama? 

Nggak ada jawaban benar atau salah, ya. Ini cuma salah satu langkah buat mulai lebih sadar sama pola pilihanmu dalam menentukan pasangan. 

Sumber: Hendrix, H. (1988), Getting the Love You Want. Imago Relationship Theory. 

Eps 03 Hubungan Toxic

Dari riset selama puluhan tahun terhadap ribuan pasangan, Psikolog John Gottman menemukan 4 Pola Komunikasi yang paling kuat memprediksi putus dan perpisahan yang dijuluki Four Horsemen. Let’s take a look! 

  1. Kritik : Menyerang karakter, bukan perilaku
  2. Penghinaan : Meremehkan, sarkasme sebagai prediktor terkuat 
  3. Defensif : Selalu merasa benar, menyalahkan balik 
  4. Stonewalling : Menutup diri, diam total saat konflik terjadi 

Bukan berarti kalau ini muncul lalu hubungan pasti berakhir, ya. Akan tetapi kalau ini jadi pola yang terus berulang tanpa adanya perbaikan, maka itu jadi sinyal yang layak diperhatikan 

Yuk, main tebak-tebakan! Ini 4 momen kecil dalam hubungan, masing-masing termasuk ke dalam Four Horsemen yang mana? 

Skenario 1 : “Kamu tuh emang selalu gini deh, nggak pernah mikirin perasaan orang lain.” 

Skenario 2 : “Ya udahlah terserah, ngapain juga aku jelasin ke kamu.” (diam seharian, nggak mau ngobrol) 

Skenario 3 : “Lah kok aku yang salah? Kamu juga sering kok telat, kenapa cuma aku yang ditegur?” 

Skenario 4 : “Ya ampun, gitu aja baper. Dewasa dikit kenapa sih.” (muter mata)

Sumber: Gottman, J. & Levenson, R. (1999), “Predicting Divorce Among Newlyweds...” Family Process 

Eps 04 Move On

Hah? Move on? Aduh, Gimana sih caranya? 

Riset David Sbarra (University of Arizona) menemukan, bahwa yang membuat seseorang pulih setelah hubungan berakhir bukanlah mengenai caranya untuk melupakan mantan secepat mungkin. Akan tetapi bagaimana individu tersebut mampu untuk membangun kembali kejelasan mengenai siapa dirinya sendiri (self-concept clarity). Perasaan goyah setelah moment kehilangan pasangan biasanya akan dirasakan individu bersamaan dengan upayanya untuk membangun dirinya kembali. 

Orang yang lebih sering merefleksikan pengalaman diri mereka terutama dari kegagalan hubungan yang telah terjadi (bukan menghindari) secara terstruktur justru menunjukkan penurunan rasa kesepian dan distress yang lebih besar. 

Eitsss! Move on bukan soal cepat-cepatan lupain mantan

Ini 5 langkah yang beneran terbukti bantu proses pulihmu !

  1. Biarkan diri berduka : Sedih itu wajar, bukan tanda lemah
  2. Beri jarak dari pengingat : agar tak nggak terus dipicu oleh kenangan lama
  3. Temukan lagi dirimu sendiri : di luar identitas sebagai pacarnya dia 
  4. Cari dukungan jangan menyendiri terlalu lama : cerita ke orang terdekat boleh juga kok
  5. Biarkan pelajaran dan keihklasan muncul perlahan : nggak peru di paksa healing instan

Nggak ada waktu yang pas atau benar buat sembuh. Yang penting, teruslah bergerak dan bukan cuma berhenti di satu fase aja. Yuk, move on! 💛

Sumber: Larson, G.M. & Sbarra, D.A. (2015), “Participating in Research on Romantic Breakups…”, Social Psychological and Personality Science. 

Eps 05 Cinta yang sehat  

Apa itu Cinta yang Sehat? 

Robert Sternberg lewat Triangular Theory of Love menjelaskan cinta yang paling utuh dan stabil atau Consummate Love terdiri dari 3 komponen yang sama-sama hadir beriringan 

  • Intimacy : Keterhubungan emosional, merasa nyaman jadi diri 
  • Passion : Ketertarikan romantis atau fisik
  • Commitment : Keputusan sadar untuk terus bertahan dan berkontribusi dalam hubungan

Sternberg sendiri mengingatkan bahwa mempertahankan cinta yang utuh itu lebih sulit daripada ketika awal membangun hubungannya. Pada akhirnya, 3 komponen ini butuh untuk terus diekspresikan secara berkelanjutan, bukan cuma dirasakan secara diam-diam . 

Pssttt! Yuk Cek Triangle of Love Milik Kamu! 

Sesuai Teori Sternberg, cinta yang utuh punya 3 komponen di dalamnya: Intimacy, Passion, Commitment. Yuk, self-check versi santai dengan kasih Skor 1-5 buat tiap komponen yang ada di hubunganmu sekarang ! 

  • Intimacy : “Aku ngerasa nyaman jadi diri sendiri dan bisa cerita apa aja ke dia” (skor 1-5)
  • Passion : “Masih ada rasa excited atau tertarik secara romantis juga fisik ke dia” (skor 1-5)
  • Commitment : “Aku sadar dan sengaja memilih buat terus bertahan & berusaha di hubungan ini” (skor 1-5)

Sumber: Sternberg, R.J. (1986), “A Triangular Theory of Love,” Psychological Review. 

Writer : Eliana Kurniawati, S.Psi., M.Si  | Directed : Mike Karunia Wati Simamora, S.Psi., M.Si 

Hai! Butuh bantuan? 💛